.: Poltekes Yapkesbi Sukabumi :.

Navigation




Mahasiswa Jepang Nangis Ninggalin Indonesia

09-09-2013,Rachmad Faisal Harahap - Okezone,

Mahasiswa-mahasiswa Jepang ini hanya delapan hari berada di Indonesia. Tetapi ketika tiba saatnya untuk kembali ke kampung halaman, tangis haru tidak bisa mereka tahan. Apa yang terjadi?

Ternyata, 10 mahasiswa Jepang tersebut sangat terkesan dengan kegiatan yang baru saja mereka ikuti; East Asia Young Leaders Exchange (EAYLE). Acara besutan Global Peace Festival Indonesia Foundation (GPFIF) ini memberikan anak-anak muda dari Negeri Sakura itu berbagai pengalaman dan bekal untuk menjadi pemimpin dunia yang cerdas, inovatif, dan berkarakter.

Program pertukaran pemuda Jepang-Indonesia ini mengusung tema "Living for Greater Good". Melalui program ini, GPFIF ingin menyebarkan semangat perdamaian kepada generasi muda yang berbeda latar belakang, baik budaya maupun agama.

Mahasiswa Universitas Doshisha, Kazuhiro Handa, adalah salah satu peserta EAYLE 2013. Menurutnya, upaya mempromosikan perdamaian dunia secara perlahan sangatlah penting.

"Anak muda bisa lebih mudah melewati berbagai batasan yang ada, baik pemikiran, keyakinan, kebudayan dan lainnya. Melalui program ini, saya belajar tentang bagaimana kita bisa menjalin persaudaraan terlepas dari berbagai perbedaan itu," kata Handa, seperti dikutip dari keterangan tertulis GPFIF kepada Okezone, Senin (9/9/2013).

Di negeri yang kaya akan perbedaan budaya dan agama ini, para peserta EAYLE 2013 sangat merasakan konsep One Family Under God. Bahkan, sambutan hangat dari masyarakat Indonesia mampu membuat mereka meneteskan air mata haru berkali-kali.

Selama kegiatan yang berlangsung pada 22-29 Agustus 2013 itu, peserta EAYLE turun langsung merasakan kehidupan masyarakat Indonesia. Di Purwakarta, mereka mengunjungi sebuah desa terpencil. Di Bandung, mereka menikmati indahnya Kawah Putih dan berkampanye Peace to Walk bersama Peace Generation.

Tidak hanya itu, peserta EAYLE 2013 juga dimanjakan dengan penampilan apik pegiat seni di Saung Angklung Mang Udjo serta menunjukkan perhatian kepada para penghuni Panti Werdha dan Panti Asuhan.

Di Pulau Pramuka, mereka melepas penyu dan menanam bakau. Sebagai simbol toleransi beragama, peserta EAYLE 2013 mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Mereka juga mengunjungi Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti di Jakarta.

Presiden Global Peace Youth Corps Indonesia Shintya Rahmi Utami menyatakan, kesempatan berinteraksi dengan masyarakat lokal ini membuat para peserta merasakan langsung keramahan dan kekeluargaan. Kedua hal ini merupakan ciri khas Indonesia.

"Program ini unik, karena para peserta mendapatkan pengalaman untuk terlibat langsung dengan berbagai kegiatan sosial di Indonesia sehingga mereka memiliki perspektif baru tentang nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin tidak akan mereka dapatkan di Jepang," tutur Shintya.

Dia mengimbuh, program ini mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah pemisah. Perbedaan justru menjadi jembatan untuk bergotong royong dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik dan penuh dengan perdamaian di sekitar kita. (rfa)